Facebook masih laku? Tapi gaapa lah add ya! Ask me anything here! Ayo ke homepage! Blog kolaborasi nih, habis follow blog ku, follow Blog TEME ini juga ya! Isinya suka-suka widya! LOL

welcome to my blog

halo.. slamat datang di blog saya :)
hehe.. enjoy here :D

Senin, 08 Maret 2010

Synopsis novel teenlit Dealova - Dyan Nuranindya









Judul: Teenlit: DeaLova
Pengarang: Dyan Nuranindya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal: 300 halaman
Cetakan: Ke-9 (Juni 2005)
Genre: Drama/romance

“Menu” yang tersaji dalam DeaLova pun kita udah nggak asing lagi, karena semua pernah muncul di novel-novel seri Teenlit lainnya terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU). Ada anak kecil jet set bermobil BMW, ada cewek tomboy jago basket yang nggak peduli penampilan, dan ada siswa baru ber-gender cowok yang jadi idola semua cewek tapi justru bertingkah dingin dan sadis pada mereka semua.
ABG bermobil mewah itu adalah semua tokoh dalam buku ini, cewek pebasket yang gak peduli penampilan dan mengingatkan kita pada Sasha dari Me VS High Heels!-Maria Ardelia dan Fairish-nya Esty Kinasih itu bernama Karra, dan si cowok dingin yang mirip Davi dari Fairish itu adalah Dira, anak baru SMU Persada pindahan dari Aussie.
Dikisahkan, Karra terlibat dalam love-hate relationship yang amat membingungkan dengan Dira. Di pihak lain, Karra juga dekat dengan Ibel, sobat kental Iraz, kakak semata wayangnya. Lazimnya dalam sebuah kasus cinta segitiga, akan ada fenomena “pilih yang mana?”.
Namun Dyan ternyata nggak nampilin urusan dilema itu dalam DeaLova. Sebagai gantinya, ia memaparkan betapa Karra telah berhasil mengubah kehidupan baik Dira maupun Ibel. Ketika pada akhirnya salah satu di antara kedua cowok itu meninggal karena kanker paru-paru (untung bukan tumor otak atau leukemia!), Karra pun jadian dengan salah satunya lagi yang masih hidup segar bugar.

Kamis, 04 Maret 2010

Synopsis Ambrosia

Hey guys,

Thought you want to know a bit about it. The book is still on major revision. Hopefully it will be out around this year.


AMBROSIA
Buku #2 AERIAL

oleh
Sitta Karina


SINOPSIS

Dua orang eripia, Sashika dan Laskar, menembus Pintu Ilusi demi menyelamatkan klan Kegelapan dan Cahaya yang akan saling berperang di negeri Aerial. Sayangnya melewati Porta Illusia atau Pintu Ilusi tersebut ibarat membuka kotak Pandora; Porta Illusia tak lain adalah Ambrosia, dimensi bawah tanah tempat disekapnya seluruh sumber kejahatan jagat raya.

Laskar pernah memiliki teman lama yang hilang saat badai es di Taman Chitrakala. Sashi selalu mengenang peristiwa dimana Laskar pernah menyelamatkan dirinya di taman yang sama. Dan ketika keduanya kembali ke Aerial, Sadira dan Hassya menyambutnya dengan dingin. Lalu muncul bangsawan bernama Milosh yang memberikan cincin kepada Sashika dan Sadira, serta seorang peri cantik, Alyx, yang ingin lebih dari sekadar membalas budi kepada Laskar yang telah menyelamatkannya.

Intrik di Aerial kembali terulang. Persahabatan yang terlupakan oleh waktu kembali ke permukaan. Di tengah gempuran hidup dan mati, Laskar—sebagai jiwa penjaga Hassya—dihadapkan pada perasaan aneh terhadap musuh bebuyutan keluarganya: apakah sesungguhnya ia benci pada Sashi—atau malah sebaliknya?




PROLOG


“TOLONG kamiiiiii!”

Begitu suara perempuan Cahaya, Antya namanya berteriak dari pangkal kerongkongannya—ngeri, tegang, dan sangat frustrasi—Ambrosia pun terbangun dari tidur panjangnya. Monster penghuni tempat itu, seekor ikan pari dengan ekor yang dapat memecut ribuan volt listrik, ikut terjaga, menanti kedatangan eripia dari dimensi lain yang akan melintas di situ.

Ambrosia adalah terowongan gelap, lorong luas dengan udara hampa yang memungkinkan jiwa—ya, jiwa, bukannya jasad fisik, mengambang di situ. Di sisi-sisi kanan-kiri yang jaraknya sangat berjauhan terdapat stalagtit runcing, siap menjadi tombak bagi siapapun yang tidak mampu mencapai cahaya terang pada ujung lorong ini.

Tapi mendadak Ambrosia yang selama ini sepi, hampa, dan tidak berkehidupan kembali berdenyut oleh kehadiran 2 orang asing—jiwa asing—yang mengembara di situ.

Monster raksasa yang selama ini menjaga—ikut disegel di Ambrosia—adalah yang pertama kali bangkit. Terganggu. Siap menghadang siapapun pengembara malang itu.

Dari balik terali stalagtit yang mengurungnya, sebuah nafas terhembus pelan. Senang.

Ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggunya.

Koral, si ikan pari raksasa, melayang mendekati tuannya dari luar terali. Tangan tuannya mengelus kepala monster ini. “Rasanya mungkin tidak seenak si kuda terbang hitam. Tapi dua orang itu bisa menjadi makan malammu, Koral.”

Ikan pari raksasa melesat kencang diiringi tawa Milosh, majikannya yang terpenjara di situ.

Dulu setelah Keir menangkap Llyr, kuda terbang hitam di wilayah Kegelapan, penyihir ini memberikannya pada Koral. Kini setelah Koral dikurung bersamanya dalam Ambrosia, si ikan pari hanya menyantap sisa-sisa nyawa yang tercecer ke terowongan antar-dimensi ini. Biasanya buangan dari dimensi Cahaya-Kegelapan, sekarang dikenal sebagai dimensi Aerial, atau dari dimensi lain tempat sepasang eripia, Bumi.

Milosh mendengar beberapa kali cambukan dan gemuruh bebatuan terowongan yang runtuh. Koral pasti telah membunuhnya, pikirnya. Tapi dugaannya salah. Kedua jiwa asing itu berhasil lolos. Ditelan cahaya yang merupakan akhir terowongan. Akhir dari Ambrosia.

Sial, desis Milosh.

Tapi orang ini malah tersenyum. Ditengadahkannya kepala, melihat asal kedatangan dua jiwa asing tersebut. Pintunya tidak tertutup sempurna. Pintu ke arah dunia lain. Dunianya si eripia.

“Tapi...” Milosh melihat ke arah kedua tangannya yang memegang jeruji stalagtit dimana perlahan-lahan jeruji itu meluruh dalam butiran cahaya,”terima kasih pada kalian. Karena kedatangan kalianlah, segelku akhirnya terbuka kembali.”

Dengan jari-jari tangannya yang panjang, Milosh mulai menggerus jeruji, menghasilkan dentingan suara yang melengking halus namun memekakkan telinga. Terus dan terus. Tanpa henti. Sesuai namanya, Milosh akan menghidupkan tempat ini kembali.

Sesuai namanya: Ambrosia. Abadi.

Sebuah kerajaan antar-dimensi yang abadi terornya dalam kegelapan.

Dan suara tinggi itu terus beresonansi, menggapai jarak yang lebih jauh... lebih jauh lagi... sampai mencapai pintu tempat dua orang eripia asal Bumi masuk.





BAB SATU


San Salvador, Kep. Bahama

“YO, Laz.. What’s up, man?”

Langkah Laskar Adhyaksa terhenti dan itu bukan karena suara Carlos Pattiera, cowok blasteran Spanyol-Kroasia, sepantaran Laskar, 16-17 tahunan, partner dalam Tropical Marine Biology Summer Program yang tengah diikutinya bersama sebuah organisasi nirlaba bidang ekologi. Aksen Carlos ketika berbicara dalam Bahasa Inggris benar-benar lucu, membuat nama “Laskar” terdengar sebagai “Lazkar”.

Laskar tau banget apa yang menantinya ketika liburan sekolah mulai: seabrek program seperti summer camp, team activity, maupun non-govermental organization internship—apapun yang dapat mengalihkan perhatian Laskar dari adu jotos terutama dengan anak-anak kolong yang seringkali melakukan pungli terhadap bisnis yang sedang digarap keluarganya. Ayah sengaja mengirimnya jauh-jauh dari Indonesia mulai dari volcanoes research di Hawaii sampai kegiatan konservasi alam di Costa Rica. Dan ketika Laskar kembali ke Jakarta, Ayah akan menyambutnya dengan senyuman super-lebar,”Welcome home, son. Ready to rock the school again?”

Tentunya saat itu Laskar hanya melengos. Ayah pintar dengan mengatur trip Laskar sama lamanya dengan lama liburan sekolah. Jadi pas pulang, Laskar sudah bersiap memakai baju seragam lagi ke sekolah. Sama sekali nggak dikasih kesempatan untuk “pecicilan” di Jakarta alias kegiatan yang buat orang seperti Laskar sama kayak mengundang keonaran. Jangan salahkan dirinya dong atas babak-belurnya tiga orang preman di Taman Chitrakala beberapa bulan lalu! Pilihan Laskar saat itu hanya 2: mereka yang celaka atau Sashi yang celaka. Laskar memilih yang pertama. Walau Sashi seorang Amunggraha, musuh bebuyutan keluarganya, tapi secara personal mereka telah membagi kisah menakjubkan yang sama di dimensi Aerial. Jadi ia punya alasan kuat untuk melindungi Sashi saat itu walau dirinya hampir saja dipenjara karena kebrutalannya. Mungkin egonya sebagai cowok yang sebenarnya ingin melindungi Sashi.

Kepala Laskar mendongak ke atas. Masih sama: gelap dan seperti tak berbatas. Lighthouse Cave adalah goa terbesar di Pulau San Salvador, objek penelitian mereka. San Salvador sendiri merupakan distrik dalam Kepulauan Bahama, dulu dipercaya sebagai tempat perhentian pertama Columbus dalam ekspedisinya menemukan Dunia Baru. Pulau ini dikelilingi terumbu karang yang biasa menghuni air dangkal sehingga jadi surga bagi peneliti dan siswa dari belahan dunia yang ingin mengamati ratusan spesies ikan tanpa harus menyelam terlalu dalam.

Laskar adalah salah satunya yang tertarik akan ini, disamping ia bisa sekalian ikut trekking dan eksplorasi goa sebagai bonus yang ditunggu-tunggunya. Selalu ada hal menakjubkan.. unik yang bisa ia temukan dalam bangunan hasil kerja alam ini.

Namun kali ini Laskar tidak bisa menyebutnya unik maupun menakjubkan. Aneh adalah sebutan yang paling tepat.

Laskar menengok ke Carlos. “Elo dengar itu?” tanyanya.

“Dengar apa?” Carlos nampak bingung.
“Suara... melengking.”

“Nggak ada kelelawar di sini.” Carlos tertawa. Dilihatnya postur Laskar dari atas sampai bawah. “Elo ini... Daniel Craig abis, man. Jadi nggak cocok kalau pasang tampang takut begitu.”

“Gue nggak takut,” Laskar masih nampak berpikir. Bukan hanya suara itu. Ada perasaan aneh, sedikit merinding, dan dingin.

Dingin yang creepy tatkala Laskar mendengarnya. Kadang melengking, kadang lirih.

Seperti dirinya dapat menerjemahkan suara itu menjadi gelombang ultrasonik yang biasa didengar kelelawar. Padahal Laskar yakin ia tidak memiliki kemampuan seperti itu.

Apakah ada hubungannya dengan kejadian dulu,“Di Aerial...?” tanpa sadar Laskar menggumam sendiri.

“Aerial?” Carlos bertanya, hanya mendengar kata terakhir. Ia kini benar-benar khawatir memandangi Laskar. “Elo yakin nggak apa-apa?”

Laskar mengangguk kecil, masih mendongak ke atas. Dinding goa di atasnya seperti bergetar. Ia merasakan itu walau yang dilihatnya hanya hitam dan gelap. Sungguh aneh. Seharusnya Lighthouse Cave termasuk goa besar yang aman di San Salvador. Sebelumnya ia pernah menjelajah dan mendaki goa-goa yang lebih menantang di Galápagos, sambil melihat Teori Darwin dalam bentuk nyatanya pada beberapa spesies endemik di situ.

Air laut yang merendami setengah betis Laskar ikut beriak membentuk arus kecil.

“Gempa?!” Carlos disusul anak-anak lain di situ berteriak dan ketika menoleh ke Laskar, ekspresi horor terpancar di wajah hispaniknya,”You are glowing—WHAT ARE YOU?!”

Belum sempat Laskar menjawab, dinding goa runtuh dengan cepat di atas mereka berdua. Di atas kepala Carlos tepatnya.

Laskar memang preman tapi ia tidak akan meninggalkan teman walau dunia sedang menelan mereka sekalipun. Dilemparnya segera ke samping ransel berat di punggungnya agar ia mudah bergerak. Tangannya terjulur ke arah Carlos.

“Your hand...” Setengah mati Carlos berusaha menggapai tangan Laskar. Sialnya kaki orang ini tersangkut stalagmit yang tergenang air hingga tidak bisa mencondongkan tubuh lebih ke depan lagi.
Laskar berusaha keras tapi tidak bisa memegangnya.

“Help me, man...” Carlos memohon dengan sangat putus asa. Di depannya cahaya yang mengelilingi tubuh Laskar semakin terlihat terang, ibarat sebuah lampu penerang di goa ini.

“Save me.”

Darn! Apa yang terjadi pada dirinya—tubuhnya? Bukannya Laskar tidak mau menolong; ia benar-benar tidak dapat menggerakkan tubuh sama sekali.

Lalu dadanya seperti dihantam balok kayu. Keras, sakit, dan menohok dalam.

Serangan jantung... disaat seperti ini?!

“Help...”

Suara Carlos tertelan reruntuhan goa. Begitu juga tubuh yang sama-sama memakai kaos ScholasticTreks seperti Laskar. Sebelum sebongkah batu besar mengenai Laskar, ia yang tidak berdaya sudah ditarik mundur ke belakang.

Sungguh mengerikan melihat Carlos terkubur seperti itu. Tapi yang lebih parah, sakit di dada yang Laskar rasakan, membuatnya yakin ia juga tidak mungkin keluar hidup-hidup dari Lighthouse Cave.


Udah terbit lo novelnya... buruan beli, entar kalo udah... aku pinjem yaa...


Sabtu, 02 Januari 2010

Lirik Naruto (ndak banyak)

LIRIK LAGU NARUTO (ndag banyak)
CLOSER
Naruto Shippuuden 4th Opening Theme
By: Inoue Joe
Mijika ni arumono
Tsune ni ki wo tsuketeinai to
Amari ni chikasugite
Miushinatteshimaisou
Anata ga saikin taiken shita
Shiawase wa ittai nan desuka
Megumaresugiteite
Omoidasenai kamo
Ima koto ni iru koto
Iki wo shiteiru koto
Tada sore dake no koto ga
Kiseki da to kizuku
Mijika ni arumono
Tsune ni ki wo tsuketeinai to
Amari ni chikasugite
Miushinatteshimaisou
You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
And I’ll never take it for granted
Let’s go
Hito dasuke wo gizen to
Yobu yatsura mo iru kedo
Shinjiru no mo utagau no mo
Hito sorezore dakara
Tatoe karini sore ga
Gizen deatta toshitemo
Dareka wo sugueta nara
Sore mushiro nani yori mo riaru
Oitsuzuketekita yume
Akiramezuni susume yo nante
Kirei koto wo ieru hodo
Nani mo dekichainai kedo
Hitonigiri no yuuki wo mune ni
Ashita wo ikinuku tame ni
And I’ll never take it for granted
Let’s go
Mijika ni arumono
Tsune ni ki wo tsuketeinai to
Amari ni chikasugite
Miushinatteshimaisou
You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
And I’ll never take it for granted
Oitsuzuketekita yume
Akiramezuni susume yo nante
Kirei koto wo ieru hodo
Nani mo dekichainai kedo
Hitonigiri no yuuki wo mune ni
Ashita wo ikinuku tame ni
And I’ll never take it for granted
Let’s go
English Translation:
You’ve gotta be extra careful with
The things that are close and dearest to you
You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
Explain to me this happiness
That you just got to experience
Or maybe you’re so blessed that
You can’t even remember it all
That you are standing here with me
That you live and breathe and see and feel
They’re all little miracles and wonder
Just by themselves.
You’ve gotta be extra careful with
The things that are close and dearest to you
You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
And I’ll never take it for granted
Let’s go!
Even though there are those
Who call the act of mercy hypocrisy,
Because there are both
People who believe and people who doubt
Even if, for example,
That is hypocrisy,
If someone is salvageable,
That is always better than anything else.
It’s fine to say “Never give up”
And “Keep on chasing your dreams”
But the more time you spend talking big
The less you get done with life
I’ll let that handful of courage in my heart
Help me survive another day
And I’ll never take it for granted
Let’s go!
You’ve gotta be extra careful with
The things that are close and dearest to you
You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
You know the closer you get to something
The tougher it is to see it
And I’ll never take it for granted
It’s fine to say “Never give up”
And “Keep on chasing your dreams”
But the more time you spend talking big
The less you get done with life
I’ll let that handful of courage in my heart
Help me survive another day
And I’ll never take it for granted
Let’s go!
Blue Bird
Habata itara modoranai to ittte
Mezashita no wa aoi aoi ano sora
"Kanashimi" wa mada oboerarezu
"Setsunasa" wa ima tsukami hajimeta
Anata e to daku kono kanjou mo
Ima "kotoba" ni kawatte iku
Michi naru sekai no yume* kara mezamete
kono hane wo hiroge tobitatsu
Habata itara modoranai to itte
Mezashita no wa shiroi shiroi ano kumo
Tsukinuketara mitsukaru to shitte
Furikiru hodo aoi aoi ano sora
aoi aoi ano sora
aoi aoi ano sora
Aisou sukita you na oto de
Sabireta furui mado wa kowareta
Miakita kago wa hora sutete iku
Furikaeru koto wa mou nai
Takanaru kodou ni kokyuu wo azukete**
Kono mado wo kette tobitatsu
Kakedashitara te ni dekiru to ittte
Izanau no wa tooi tooi ano koe
Mabushi sugita anata no te mo nigitte
Motomeru hodo aoi aoi ano sora
Ochite iku to wakatte ita
Soredemo hikari wo oi tsudzukete iku yo
Habata itara modoranai to ittte
Sagashita no wa shiroi shiroi ano kumo
Tsukinuketara mitsukaru to shitte
Furikiru hodo aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
aoi aoi ano sora

Viva Rock
By:
Orange Range
Have you ever heard of the Orange Range?
Don’t tell your mama or she’ll think your insane
All the pretty girls like to listen and pretend
Our music’s in the highway that has no end
Sekaijuu hora waratte sora
Miagete saa tachiagatte
Oh yeah… oh yeah… oh yeah…
Oh…
Hi Say, chikyuu wa mawaru kimi no tame ni asa ga kuru
Hada no iro ya me no iro kachikan datte iroiro
Boku mo kimi mo dosoku de HAGU KISSU I LOVE YOU
Saa, ote o haishaku JAPANIZU PIIPA
Sekaijuu hora waratte sora
Miagete saa tachiagatte
Oh yeah…oh yeah…oh yeah…
Sekaijuu hora kawatteku
Minna ganbatte so tachiagatte
Oh yeah…oh yeah…oh yeah…
Sekai wa hiroi hiroi totetsu mo naku
Ookii hito chiisai hito BIBIDEBABIDEBU-
Dakara atama nayamasen’na
Kimi wa kimi da sekai wa maji de
Kagiri nee n da saa ashinami soroete
(One, Two, One, Two)
Sekaijuu hora waratte sora
Miagete saa tachiagatte
Oh yeah…oh yeah…oh yeah…
Sekaijuu hora kawatteku
Minna ganbatte so tachiagatte
Oh yeah…oh yeah…oh yeah…
(Hito wa toki ni mayoi naki
Soredemo sora o miagete
Deigo no hana wa akaku moe
Hiroki daichi fumishime
Tomo no warau koe to
Futto ukabu kimi no egao
Atatakai hizashi maioriru chikara
Yukou hajime kara)
Sekaijuu hora waratte sora
Miagete saa tachiagatte
Oh yeah…oh yeah…oh yeah…
Sekaijuu hora kawatteku
Minna ganbatte so tachiagatte
Oh yeah…oh yeah…oh yeah…
A-M-E-R-I-C-A-N (4x)
LONG KISS GOOD BYE

Kondo wa itsu aeru ka nante
Sonna kao shite yoku ieru tte
Omotteta yo nande darou
Nanimo ki ni naranai furi shite
Iiwake suru nara kiku wa asa made
Tsunagattetai kara
Mou kao mo mitakunai meguro gawasoi
Arienai tenkai odoru keetai
Gubbai meeru naraba wasuretai
“Hold me tight” but “dokka kietai”
any time shaberi sugi no KY
Chirari miseru tsuyogari na “I cry”
Namida no kouka wa dore kurai?
Watashi nari ni “ai saretai” afureru no ni kimi ga mienai
Nido to kimi ni aenai sonna ki ga surunda…
Tsutaetai no ni umai kotoba miataranai
Watashi tabun uso demo
ii no ni “ikanai de” mo ienai yo
Kushami suru to deru henna koe to
Kushakusha ni warau busaiku na kao
Tomaranai ase me wo kosuru kuse
Dousetsu maranai aitsu no tokusei
Nite mo nitsu kenai futari no sutairu
Muda ni Shy sensu wa yayanai
Uso tsuku toki no fukumi warai uzai
Tokku ni barebare mendokusai
Tamatama kareshi ga inai taimingu de
Hima tsubushi teido no koitte
Tomodachi ni mo iiwake shitete
Masaka watashi ga oikaketeru… nande?
Tsumaranai jooku wa ittsumo kudoku
Dokomademo tsudzuku akiaki na tooku
Sono tabi rokku kondo wa watashi kara knock
Watashi nari ni “ai saretai” afureru no ni kimi ga mienai
Nido to kimi ni aenai sonna ki ga surunda…
Tsutaetai no ni umai kotoba miataranai
Watashi tabun uso demo ii no ni “ikanai de” mo ienai yo
Nigittetate ga hanaretara
Kimi wa itsuka wasurechau no?
Watashi no koto
Watashi nari ni “ai saretai” afureru no ni kimi ga mienai
Nido to kimi ni aenai sonna ki ga surunda…
Tsutaetai no ni umai kotoba miataranai
Watashi tabun uso demo ii no ni “ikanai de” mo ienai yo

lirik lagu naruto shippuden Long Kiss goodbye dalam bahasa inggris
“How long before we see each other again?”
What made me think that
You were saying it with a nice expression?
I pretend that there’s nothing bothering me
I’ll listen ’till morning as you make excuses
Because I want us to be connected
I don’t even want to see your face along the Meguro river anymore
No development will come from this, my cell phone dances
If It’s goodbye mail, I want to forget about it
“Hold me tight” but “I want to disappear to somewhere”
Any time that you’re talking too much you don’t seem to notice*
I let you see that “I cry” a little while pretending to be strong
How well did those tears work on you?
Even though “I want to be loved” in my own way, it fills me, but I can’t see you
I just have the feeling that I’ll never see you again…
I want to tell you that, but I can’t find the right words
Maybe it’s okay if I lie, but I can’t even say “Don’t go away”
The strange voice he has when he sneezes
The screwed up face he has when he laughs
His habit of rubbing his eyes when he can’t stop sweating
No matter how you look at, his personality is boring
Our styles aren’t similar at all
He’s uselessly shy, a bit in bad taste
The smirk he has when he lies is annoying
I figured those out ages ago, it sucks
I just didn’t have a boyfriend at the time
It was just a relationship for me
to kill time with
Those are the excuses I told my friends
There’s no way I was pursuing him…huh?
He tries to win me over with boring jokes
And I’m sick of his nonstop talking
I’ve always locked him out, and now I’m knocking
Even though “I want to be loved” in my own way, it fills me, but I can’t see you
I just have the feeling that I’ll never see you again…
I want to tell you that, but I can’t find the right words
Maybe it’s okay if I lie, but I can’t even say “Don’t go away”
When our hands come apart
Will you forget someday?
About me?
Even though “I want to be loved” in my own way, it fills me, but I can’t see you
I just have the feeling that I’ll never see you again…
I want to tell you that, but I can’t find the right words
Maybe it’s okay if I lie, but I can’t even say “Don’t go away”

hhahaha, ini lagu yg lumayan seru. . .