Follow by Email

welcome to my blog

halo.. slamat datang di blog saya :)
hehe.. enjoy here :D

Rabu, 07 Oktober 2015

Technopreneur, Penggertak Dunia

Menilik keadaan ekonomi di Indonesia, terhitung Februari 2015 sebanyak 5,81 persen dari seluruh penduduk di Indonesia mengalami pengangguran. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (BPS, 2015)

Banyak faktor yang memungkinkan terjadinya pengangguran, salah satunya adalah faktor pendidikan. Tidak semua seberentung mahasiswa yang mendapat pendidikan layak sampai jenjang yang tinggi, banyak dari mereka yang tidak mengenyam pendidikan yang baik dengan alasan faktor ekonomi. Membantu orangtuanya berjualan, mengamen, bahkan faktor ekonomi ini pendorong yang sangat kuat dalam terjadinya tindak kriminal seperti pencurian dan perampokan.

Pada zaman ini, semua bergantung pada uang. Siapa yang kaya dia diutamakan, siapa yang tidak berada dia tidak diprioritaskan. Banyaknya lapangan kerja yang tersedia juga tidak sebanding dengan populasi, sementara semua perusahaan tentu menginginkan sumber daya manusia terbaik untuk bekerja di perusahaan itu, lalu bagaimana dengan orang-orang yang belum memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang sama? Inilah yang menyebabkan banyak masyarakat kurang berpendidikan memilih bekerja di luar negeri sebagai buruh, pembantu rumah tangga, kuli bangunan, dan pekerjaan keras lainnya. Bahkan tidak jarang mereka menerima tindak seksual dan kekerasan. Tapi apa yang bisa dilakukan negara untuk melindungi mereka? Mereka memang memiliki hak perlindungan, namun mereka juga sudah mengerti sejak awal risiko-risiko apa saja yang bisa saja didapatkan ketika kita bekerja di negeri orang. Begitu pula dengan para pekerja, mereka tentu sudah tahu risiko apa yang mungkin akan didapatkan jika bekerja dibawah perusahaan, bekerja dibawah tekanan seorang pimpinan. Ada juga saat-saat dimana kelelahan telah memuncak dan mencapai titik jenuh hingga terpikirkan untuk berhenti bekerja. Jika berhenti, lalu bagaimana cara supaya mendapatkan keuntungan tanpa adanya tekanan dari pemimpin? Disinilah pentingnya jiwa entrepreneur.

Pengusaha adalah seseorang yang mampu memindahkan atau mengkonversikan sumber-sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ketingkat produktivitas yang lebih tinggi (Cantillon, Richard). Mudahnya, seorang entrepreneur adalah orang yang mampu mengembangkan ide-idenya dalam bentuk nyata dan dapat menghasilkan keuntungan.

Menjadi entrepreneur artinya bekerja sesuai dengan keinginan kita, sejalan dengan pikiran kita, tanpa ada faktor atasan dan semacamnya. Kita sendiri yang menggerakkan usaha itu, baik tidaknya usaha itu akan terlaksana karena effort yang kita berikan.

Dengan membuat usaha sendiri, kita dapat membuat lapangan pekerjaan yang menguntungkan untuk diri sendiri. Kita dapat mengatur sesuai kehendak tanpa adanya batasan-batasan mengingat kita adalah pemilik dari usaha tersebut. Selain itu, kita dapat menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Seperti yang kita ketahui, jumlah penduduk di Indonesia termasuk yang terbanyak di dunia sementara lapangan pekerjaan yang tersedia tidak cukup untuk menampung sebagian kecil masyarakatnya sehingga timbullah pengangguran. Dengan menjadi entrepreneur kita dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh orang-orang yang kurang beruntung tersebut.

Namun pada zaman ini, pengetahuan bukan satu-satunya ilmu yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Teknologi juga sangat berpengaruh mengingat betapa besar influence-nya terhadap perkembangan sumber daya manusia. Penggunaan teknologi sendiri sudah tidak bisa dipungkiri. Dapat dilihat dari masyarakat Indonesia sendiri, seluruh kalangan baik orang tua, remaja, maupun anak-anak menggunakan barang-barang elektronik yang terus berkembang seiring majunya teknologi.

Menjadi orang biasa saja tidak cukup untuk menghadapi kemajuan dunia, seorang entrepreneur yang berbasis teknologi sangat dibutuhkan jika ingin bekerja sesuai dengan kehendak, bertanggungjawab, dan tidak tertinggal majunya dunia. Disinilah peran technopreneurship ditunjukkan.

Technopreneur adalah Entrepreneur yang mengoptimalkan berbagai potensi perkembangan teknologi yang ada sebagai basis pengembangan usaha yang di jalankannya, atau bisa di bilang Technopreneur ini adalah Entrepreneur modern yang berbasis pada teknologi dalam menjalankan usahanya. (Mohammad, Iqbal. 2013)

Ada banyak sekali contoh penerapan technopreneurship seperti perusahaan Google, Facebook, dan yang sedang hits belakangan ini yakni jual beli online. Dengan teknologi, melakukan bisnis menjadi lebih mudah dan efisien, tidak perlu keluar uang lebih banyak tapi dapat menghasilkan profit terus menerus.

Banyak yang belum tau bahwa pemerintah juga turut mendukung pengembangan Technopreneurship atau bisnis berbasis teknologi, itu karena Technopreneur di Indonesia bisa menjadi tulang punggung pembangunan nasional serta mendukung kemandirian bangsa, semua itu di katakan oleh menteri Koordinator perekonomian Hatta Rajasa dalam pidatonya. Menurut beliau, perguruan tinggi harusnya juga memiliki tugas untuk mencetak orang-orang yang tidak hanya sekedar mencari lapangan kerja, tapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mereka mampu menjadi seorang Technopreneur dan mampu menciptakan sebuah lapangan kerja baru bagi para calon pegawainya, sehingga diharapkan dapat membawa perubahan kondisi bangsa ke arah yang lebih baik dalam berbagai bidang. (Mohammad, Iqbal. 2013)

Disamping banyaknya keuntungan yang bisa didapat, menjadi technopreneur bukanlah perkara yang mudah. Banyak sekali tantangan yang akan dihadapi. Menjadi pemilik suatu usaha bukan berarti kita bebas melakukan apapun tanpa pertimbangan karena tidak ada atasan yang mengawasi, melainkan harus mengamati dan terus memantau agar sistem tetap berjalan dengan baik dan efisien.

Menjadi technopreneur tidak selalu berhasil dalam sekali jalan, hampir semua contoh nyata dari para pengusaha sukses mengalami jatuh bangun yang luar biasa hebat. Seseorang yang tidak memiliki jiwa entrepreneur yang kuat tidak akan bisa bertahan menghadapi guncangan ini. Oleh karenanya dibutuhkan motivasi yang besar sejak awal jika ingin memulai suatu usaha. Selain itu, modal menjadi technopreneur adalah keberanian. Baik itu keberanian untuk mencari partner, keberanian untuk menawarkan produk, keberanian untuk memulai sesuatu, keberanian untuk menghadapi tantangan yang lebih besar, dan bahkan keberanian untuk gagal.

Technopreneurship dapat membuka lebih luas wawasan kita tentang teknologi, tentang usaha yang berbasis teknologi, dan tentang sebuah system. Technopreneur sendiri dapat mengasah ilmu tentang wirausaha sekaligus teknologi dan dapat terus mengembangkannya sehingga dapat menjadi sebuah usaha yang besar, usaha yang dapat membangun struktur ekonomi negara dan mematikan angka pengangguran, dan yang pasti kepuasan pribadi karena telah mencapai keinginan untuk bekerja kreatif dan mandiri, walaupun dengan jatuh bangun namun tetap merangkak dan mendapat kesuksesan.

Tidak ada komentar: